Dari Semangat Moderisme ke Seni Rupa Kontemporer
Koleksi karya-karya Internasional Galeri Nasional Indonesia secara umum dikumpulkan dari dua pameran besar berskala internasional yang diselenggarakan di Jakarta awal tahun 1990-an. Kedua pameran itu secara tidak langsung juga turut mendorong proses diresmikannya Galeri Nasional Indonesia tahun 2000. Pameran pertama adalah €œPARIS - JAKARTA: Masa 1950-1960€, di gedung pameran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Gambir (kini menjadi Galeri Nasional Indonesia) tahun 1992. Pameran ini diantaranya menampilkan karya-karya para seniman internasional yang pernah dikumpulkan untuk kepentingan pameran seniman Perancis di Gedung Societet Belanda, De Harmonie, Jakarta tahun 1959. Pameran 1959 ini diselenggarakan oleh Departemen Penerangan Indonesia saat itu, yang memiliki wakilnya di Perancis, berhasil mengumpulkan 100 karya grafis dan lukisan karya para seniman berbagai kewarganegaraan yang tinggal dan bekerja di kota Paris. Pameran ini lalu mendonasikan karya-karya tersebut pada Indonesia, yang kemudian disimpan di Museum Nasional Indonesia, hingga dipamerkan kembali tahun 1992 bersama-sama dengan karya-karya para seniman Indonesia di masa tahun 1950-1960. Pameran kedua adalah €œContemporary Art of The Non-Aligned Countries: Unity in Diversity in International Art€ di tempat yang sama, tahun 1995, yang diselenggarakan bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok di Indonesia. Pameran ini diikuti oleh 251 orang peserta serta disiapkan oleh 42 orang curator dari 41 negara di wilayah Asia dan Afrika. Setelah pameran ini usai, 38 karya milik 33 orang seniman dari 21 negara kemudian disumbangkan pada pemerintah Indonesia.
Kedua pameran besar itu mencerminkan latar belakang perkembangan seni yang berbeda. Karya-karya pada pameran €œPARIS - JAKARTA: Masa 1950-1960€ menunjukkan garis perkembangan gerakan modernisme internasional. Sedangkan karya-karya pada pameran €œContemporary Art of The Non-Aligned Countries: Unity in Diversity in International Art€, di sisi lain, menunjukkan semanagt gerakan seni rupa kontemporer internasional yang disokong seni rupa di luar arus perkembangan utama (mainstream) seni rupa Barat.Gerkan Modernisme Internasional adalah fenomena seni rupa yang mulai dirintis perkembangan seni rupa Barat sejak akhir abad ke-19 yang kemudian menyebar dan dipraktekkan di hamper seluruh kota-kota besar di dunia. Gerakan seni ini percaya pada prinsip dan semangat Humanisme Universal yang mengakui kemerdekaan gagasan estetik sebagai bentuk kebebasan ekspresi manusia modern. Ekspresi artistic setiap individu seniman, dalam semangat ini, dianggap sebagai manifestasi hakikat nilai-nilai bersama yang berlaku secara internasional.
Gerakan seni rupa kontemporer internasional khususnya di kawasan Negara-negara Asia Afrika, pada sisi lain, mulai berlangsung sejak tahun 1990-an. Gerakan ini mengusung semangat pembaharuan dan kritik yang terutama diarahkan pada dominasi perkembangan seni rupa Barat. Gerakan pembaharuan seni rupa kontemporer di kawasan Asia Afrika tidak sama persis dengan format gerakan kritikal seni rupa kontemporer yang juga terjadi di Barat. Perkembangan seni rupa kontemporer Asia Afrika ini tidak melulu menyatakan kritik pada prinsip-prinsip estetik yang jadi dasar perkembangan Modernisme internasional, tetapi juga mempromosikan cara tafsir dan adaptasi praktek yang berbeda dari prinsip-prinsip modernisme internasional yang berlangsungdi kawasan Asia Afrika. Dasar paling penting dari gerakan seni rupa kontemporer Asia Afrika adalah upaya untuk menyatakan representasi-diri (self-representing) berbagai perkembangan social-budaya dengan cara dan bentyuk-bentuk yang mereka pahami. Upaya representasi-diri ini pada akhirnya terkait semangat memahami-diri (Self-identifying) yang tak hanya mesti dipahami Negara-negara Barat, tapi juga penting dan bermanfaat bagi interaksi diantara mereka sendiri atas nama kekayaan eksistensi budaya yang berbeda serta prinsip kemajuan bersama.
Rizki A. Zaelani
Kurator
